Beragam kopi arabika di Indonesia

 

Biji Kopi

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbersar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Colombia. Dari total produksi yang dihasilkan sekitar 67% kopi diekspor dan sisanya 33% untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Industri kopi di Indonesia sangat beragam, dimulai dari sektor industri kecil Lokasi industri kopi multinasional. Produk akhir tidak hanya diproduksi dan tidak hanya memenuhi permintaan domestik, tetapi juga mengisi pasar luar negeri. Itu bisa dilihat Konsumsi kopi dalam negeri merupakan peluang pasar yang sangat menarik bagi masyarakat pengusaha dan memberikan kondisi yang menguntungkan untuk berinvestasi di industri kopi. Namun, kelancaran produksi biji kopi tidak dapat mengimbangi pertumbuhan konsumsi kopi Kopi itu sendiri dan pilihan pengolahan berkualitas tinggi. Di Indonesia sendiri menerapkan standar nasional kualitas atau mutu suatu biji kopi yakni dengan melihat faktor dari nilai cacat pada biji kopi.

Kopi arabika

Kopi arabika dipercaya untuk pertama kali diklasifikasikan oleh ilmuwan Swedia Carl von Linné pada 1753. Kopi dengan kandungan kafein 0,8-1,4% ini aslinya berasal dari Brazil dan Ethiopia. Arabika merupakan kopi pertama yang ditemukan dan dibudidayakan oleh manusia selama ini. Kopi arabika tumbuh di area 700-1700 m dpl, dengan suhu 16-20 ° C, dan iklim kering selama tiga bulan berturut-turut. Jenis kopi arabika sangat rentan terhadap karat daun black chrysanthemum (HV) terutama jika ditanam pada ketinggian kurang dari 700 m.Oleh karena itu, dibandingkan kopi robusta atau jenis kopi lainnya, kopi arabika memang Butuh lebih banyak perhatian. Kopi arabika saat ini menguasai sebagian besar pasar kopi dunia, dan harganya jauh lebih tinggi dari jenis kopi lainnya. Di Indonesia, perkebunan kopi arabika paling banyak kita temukan di Toraja, Sumatera Utara, Pegunungan Aceh dan banyak wilayah di Pulau Jawa. Indonesia sedang mengembangkan beberapa varietas kopi Arabika, antara lain kopi Arabika Abesinia, Pasumah, Marago, Typica, dan Congensis Arabika.

arabika biji
arabika biji
Jenis jenis
  1. Typica

Jenis biji Typica ini merupakan varietas pertama yang masuk ke Indonesia. Itu dibawa oleh Belanda ketika mereka pertama kali datang ke Indonesia. Namun ketika Coffee Rust menyerang Indonesia, varietas Typica asli yang dibawa oleh Belanda kemudian punah. Untungnya tidak semua spesies punah, karena masih terdapat varian Typica lokal yaitu Bendendal dan Sidikalang yang banyak dijumpai di daerah dataran tinggi seperti Sumatera, Sulawesi dan Flores. Mereka biasanya tinggal di perkebunan di daerah terpencil.

  1. Timor timor

Varietas Hybrido de Timor di Indonesia biasa disebut juga sebagai varietas “Tim Tim”, asal kata dari Timor Timur. Varietas ini adalah hasil dari persilangan alamiah antara Arabika dan Robusta. Varietas Tim Tim pertama kali mengalami masa panen di tempat asalnya yaitu Timor Timur pada tahun 1978. Karena kualitas nya yang bagus, kemudian varietas ini coba di tanam di daerah lain seperti Aceh dan Flores pada tahun 1980. Sekarang varietas Tim Tim juga telah dikenal dengan sebutan lain yaitu Varietas Churia.

  1. Linie S

Linie S adalah ragam yang berasal dari India. Kemudian varietas Linie S dikembangkan dengan menggunakan varietas bourbon. Jenis umum yang paling terkenal dari pengembangan Line S ini adalah S-288 dan S-795. Jenis ini dapat ditemukan di banyak daerah dataran tinggi seperti Aceh, Lintong, Jawa, Bali, Sulawesi, Flores dan Papua.

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *